“Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan karena menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”
(Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902)
Dalam buku Kartini yang fenomenal berjudul Door Duisternis Tot Licht atau Habis Gelap Terbitlah Terang, ibu kita yang satu ini menuliskan kegelisahan hatinya menyaksikan wanita Jawa yang terkungkung adat sedemikian rupa. Tujuan utama beliau menginginkan hak pendidikan untuk kaum wanita sama dengan laki-laki. Tak lebih. Ia begitu prihatin dengan budaya adat yang mengungkung kebebasan wanita untuk menuntut ilmu.
Dan ilmu yang diperoleh melalui pendidikan ini bukanlah sebagai sarana untuk sekadar menang-menangan dengan laki-laki. Tapi lebih sebagai bekal mendidik anak-anak kelak agar menjadi generasi berkualitas. Bukankah anak yang dibesarkan dari ibu yang berpendidikan akan sangat berbeda kualitasnya dengan mereka yang dibesarkan secara asal? Inilah yang berusaha diperjuangkan Kartini saat itu.
Kartini memang sempat kagum dengan kemajuan yang dicapai oleh wanita Barat. Karena kebetulan saat itu yang menjadi teman koresponden beliau adalah wanita-wanita dari negeri Belanda. Tapi jangan lupa lho, ada perubahan pemikiran pada diri Kartini setelahnya ketika ia mengatakan dalam tulisannya
“… Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradapan?”. Artinya bahwa budaya Barat bukanlah menjadi parameter keberhasilan dalam membentuk sebuah peradapan baru yang bermutu.”
Silau. Fatamorgana. Bagaikan melihat air di gurun tandus padahal ternyata cuma pantulan sinar matahari yang ada. Itulah kondisi wanita Indonesia kita yang mayoritas adalah muslimah juga. Mereka mengagungkan budaya Barat dan kehilangan jati dirinya. Dianggapnya dengan keluar dari rumah dan berebut karir dengan para pria akan membuat tinggi derajatnya. Uang dan jabatan adalah sesuatu yang dinilai lebih demi sebuah harga diri.
Inilah gambaran wanita kita, muslimah Indonesia dan hampir semua negeri Muslim yang terjajah secara ideologi. Lingkungan pun turut membenarkan kondisi penjajahan ini atas nama kemajuan dan modern. Gimana nggak, bila seorang muslimah yang setelah kuliah bertahun-tahun di bangku universitas memilih untuk menjadi ibu rumah tangga, maka tetangga kanan-kiri pasti akan mencibir. Kuliah tahunan cuma tinggal di rumah? Mending nggak usah kuliah dan nggak perlu menghambur-hamburkan uang.
Pada saat yang sama, lahan kerja untuk para laki-laki sebagai suami dan pencari nafkah utama keluarga juga semakin sempit saja. Wanita-wanita berpakaian mini dan seksi lebih diprioritaskan oleh banyak perusahaan untuk menempati posisi-posisi stratregis demi meningkatkan penjualan. Ngomong-ngomong, ini yang dijual produk apa tubuh wanita? Apakah ini pula yang diperjuangkan oleh kaum feminis yang lantang meneriakkan persamaan hak? Ternyata dengan ide ini, bukannya membawa perbaikan nasib pada kaum wanita, tapi malah semakin terpuruknya ke lembah yang bernama eksploitasi.
Wah… berarti wanita nggak boleh keluar rumah dong? No no, bukan begitu. Wanitadan laki-laki punya hak dan kewajiban yang seimbang dalam Islam. Dalam hal menuntut ilmu, keduanya mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Rasulullah saw. bersabda: “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” (HR Ibnu Adi dan Baihaqi dari Abbas ra, ath-Thabrani dan al-Khatib dari al-Husain bin Ali)
Juga dalam sabda beliau yang lain: “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan jalan baginya menuju surga.” (HR Muslim dan Tirmizi dari Abu Hurairah ra)
Bahkan dalam Islam, begitu banyak sosok-sosok wanita hebat. Sebut saja nama Aisyah yang menjadi perawi hadits hingga ribuan jumlahnya. Beliau juga seorang yang ahli dalam pengobatan. Lalu Khadijah, seorang pengusaha sukses yang tetap menjaga harga dirinya sebagai muslimah.
Intinya, tidak ada larangan bagi wanita untuk keluar rumah dan berkarir selama tidak melalaikan kewajibannya sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya. Dan yang harus diperhatikan juga adalah jenis pekerjaan apa yang dilakoni wanita. Bila memang persamaan hak itu yang dituntut, maka kecerdasan dan keterampilan itulah yang harus lebih diperhitungkan. Bukan sebaliknya. Kemolekan tubuh dan wajah sebagai barang dagangan.
Lagipula, dalam Islam hukum bekerja bagi wanita adalah mubah. Bukan sunah apalagi wajib (jika penghasilan suami belum cukup untuk mengepulkan asap dapur, sebagai istri boleh aja bantuin suami nyari nafkah dengan bekerja) . Coba bayangkan apa yang dialami wanita. Sudah fitrahnya memperoleh haid setiap bulan yang bikin lemes, belum lagi hamil, melahirkan dan menyusui, cukup berat kan. Apalagi bila ditambah dengan kewajiban mencari nafkah. Maka, Maha Benar Allah yang emang super tahu tentang kapasitas manusia khususnya yang berjenis wanita.
Bekerja jadi kewajiban kaum adam karena sesuai fitrahnya yang memang secara fisik lebih kuat tekstur tubuhnya dari kaum hawa. Dan kewajiban ini nggak main-main, pertanggungjawabannya langsung kepada Allah. Itu sebabnya, keimanan jadi memegang peran penting dalam hal ini. So, cari deh suami yang punya iman agar tahu bagaimana menghargai wanita dan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah kelak. Juga yang paham syariat agar tahu bagaimana mencukupi kebutuhan istri dan anak-anaknya dengan bekerja keras secara halal.
Wanita, yang memegang peran penting sebagai tiang negara, selayaknya menjalankan tugas dan fungsinya. Membentuk generasi tangguh penerus bangsa dan membangun pilar-pilar kokoh peradaban melalui keturunannya.
Maka, maha benar Allah yang memang menempatkan segala sesuatunya sesuai ukuran.
Filed under: Uncategorized
Taman Surga Di Asrama Kita
Jadwal Kajian UI
jilbab serentak
radio online



Kamus online
bahasa lain